--> Skip to main content

Penjelasan Jenis Nyala Api Pada Las Asetelin dan Fungsinya

Jenis nyala api pada las asetelin terbagi menjadi tiga macam menurut fungsinya. Ada nyala api untuk proses pemanasan, pengelasan dan pemotongan. Istilah yang biasa kita dengar ketika mempelajari ilmu pengelasan adalah nyala api oksidasi, nyala api netral dan nyala api karburasi. Setiap jenis memiliki karakteristik masing-masing berdasarkan kegunaannya.

Jenis nyala api pada las asetilin menyesuaikan besar tekanan yang dikeluarkan oleh tabung. Ini diatur oleh regulator dan kemudian disalurkan lewat selang gas. Nyala api tersebut juga mempengaruhi nilai temperaturnya. Suhu yang bisa dicapai oleh nyala api ini sebesar 30000 C.

Agar lebih memahami macam-macam nyala api pada pengelasan asetilin, silahkan baca uraian ringkas berikut sampai habis.

Penjelasan Jenis Nyala Api Pada Las Asetelin dan Fungsinya


Jenis Nyala Api Pada Las Asetilin

1.    Nyala Api Oksidasi

Nyala api oksidadi adalah jenis yang memiliki perbandingan tekanan gas asetilennya lebih rendah daripada tekanan gas oksigen. Dengan kata lain, nyala api ini dominan dengan gas oksigen.

Nyala api oksidasi berbentuk seperti kerucut yang bagian dalamnya lebih runcing. Dari segi ukuran, api ini lebih pendek jika dibandingkan dengan api karburasi dan netral. Selain itu, warna apinya juga lebih biru daripada dua jenis lainnya.

Pada bagian tengah api oksidasi, terlihat seperti aliran gas oksigen. Secara umum, fungsi dari nyala api ini adalah memotong material logam. Namun di pengelasan asetilin, nyala api oksidasi juga biasa dipakai untuk mengelas material kuningan dan perunggu.

Sesuai namanya, untuk menciptakan api oksidasi dilakukan dengan cara meningkatkan tekanan oksigen di dalam campuran. Sehingga, terbentuklah gas yang diperkaya oleh oksigen.

Pada pengelasan asetilen, suhu yang dihasilkan oleh nyala api oksidasi mencapai 6.0000– 6.3000 Fahrenheit.

Tekanan oksigen yang berlebih di dalam nyala api ini akan menyatu dengan logam, kemudian menciptakan oksida. Selanjutnya, nyala api memicu terjadinya proses dekarburisasi atau oksidadi pada logam cair.

Nyala api oksidasi sangat jarang dipakai untuk pengelasan material baja, karena bersifat pengoksidasi. Namun terkadang digunakan untuk las logam berbasis seng dan tembaga serta mangan dan besi cor.

Tidak hanya itu saja, nyala api oksidasi juga dipakai untuk las fusion berbahan perunggu dan kuningan. Namun tetap saja tidak dianjurkan untuk keperluas las material lain.

2.    Nyala Api Karburasi

Kebalikan dari nyala api oksidasi, kali ini yang dominan adalah tekanan gas asetilen dan mengandung tekanan gas oksigen yang lebih rendah. Untuk menciptakan nyala api karburasi dilakukan dengan cara mengurangi jumlah oksigen pada campuran, sehingga tercipta sebuah gas yang diperkaya asetilen.

Temperatur yang dimiliki oleh nyala api karburasi mencapai 5.4000 – 5.5000 Fahrenheit.  Lebih rendah dibandingkan nyala api oksidasi yang menyentuh angka 6.000-an.

Uniknya, nyala api karburasi mempunyai tiga tingkat warna berbeda. Tingkat pertama adalah api berbentuk kerucut berwarna biru sangat terang di bagian ujung nosel. Tingkat selanjutnya adalah selubung biru gelap yang mengelilingi api tadi.

Kemudian, pada tingkat terakhir ada selubung luar yang mengelilingi dua tingkat sebelumnya. Selubung ini berwarna lebih gelap cenderung keungu-unguan.

Nyala api karburasi termasuk jenis api reduksi, karena ia tidak mengoksidasi logam. Disamping itu, nyala api ini tergolong nyala pengoksidasi sebab tidak sepenuhnya membakar karbon. Sisa karbon yang tidak dikonsumsi akan dipaksa masuk logam.

Sehingga, nyala api karburasi dipakai untuk kebutuhan las baja karbon tinggi dan beberapa jenis logam lain yang tidak cepat menyerap karbon. Nyala api ini berfungsi untuk mengelas bahan logam nikel, monel dan beragam jenis baja.

Api karburasi juga bisa dipakai untuk heat treatment sekaligus bahan pengeras permukaan nonferous.

3.    Nyala Api Netral


Dilihat dari namanya kita sudah bisa langsung tahu, apabila nyala api ini mengandung tekanan asetilen dan tekanan oksigen sama besar. Perbandingan antara tekanan oksigen dan asetilen seimbang.

Dalam penerapan pengelasan gas, kebanyakan menggunakan nyala api netral. Rasio perbandingan pada nyala api netral adalah 1:1.

Temperatur yang dihasilkan oleh nyala api netral mencapai 5.6000 – 5.9000 Fahrenheit atau sekitar 3.3000 – 3.5000 C. Nyala api ini berukuran lebih kecil dan terfokus. Ia terbagi menjadi dua bagian, yaitu kerucut dalam dengan warna putih bersinar dan kerucut luar berwarna biru bening.

Pada bagian ujung kerucut dalam, suhunya sekitar 3.0000 C dan bagian tengah kerucut luarnya bertemperatur mencapai 25000 C.

Disebut sebagai nyala api netral karena sama sekali tidak ada reaksi kimia di dalam logam cair, kalaupun ada hanya sangat sedikit. Nyala oksigen dan asetilen berlebih bersifat mengubah komposisi logam cair, sehingga tidak bisa dipakai untuk las baja.

Sebenarnya, nyala api netral berperan sebagai pelindung gas yang berguna melindungi kolam pengelasan dari pengaruh reaksi kimia menggunakan atmosfir. Seperti las busur MIG (metal inert gas) dan gas lembab pada TIG (gas inert tungsten).

Nyala api netral biasa dipakai untuk pengelasan stainless steel, baja ringan, tembaga baja, aluminium, besi tulang, baja tahan karat, tembaga baja dan besi cor.

Demikianlah sedikit pembahasan mengenai jenis nyala api pada las asetilen, semoga bisa bermanfaat.